Kisah Ableh: Bergabung Menjadi GAM [2]

TEMPIAS.ID | Banda Aceh – Ableh dilahirkan di desa Kandang, Kota Lhokseumawe. Almanak saat itu berada pada 23 Mei 1978. Sulung dari tiga bersaudara ini adalah buah cinta dari almarhum Tgk Hanafiah dan Siti Rawiyah.

Semasa kecil hingga beranjak dewasa, banyak dihabiskan di kampung halamannya. Di masa remajanya, Ableh sering mendengar ceramah-ceramah ideologi perjuangan GAM di setiap desa-desa. Kala itu, kampung kelahirannya itu bersebelahan dengan kompleks PT Arun. Sebuah perusahaan gas alam terbesar yang menggapai masa kejayaannya di era Presiden Soeharto.

Baca : Kisah Ableh, Sang Pengawal Panglima [1]

Meski hasil alamnya melimpah, kekayaannya hanya dinikmati sebatas pejabat yang mendiami sebatas tapal batas kompleks PT Arun saja. Berpuluh-puluh tahun, masyarakat setempat hanya menikmati gemuruh suara mesin perusahaan gas. Ibarat pepatah “jauh api dari panggang” kekayaan alam yang dikeluarkan dari perut bumi Pase tidak dinikmati sepenuhnya oleh warga. Artinya, ada semacam tapal batas antara PT Arun dengan masyarakat, sehingga ketimpangan ekonomi jauh berbeda.

“Saat itu, banyak sekali Mualem eks Libya seperti Almarhum Ahmad Kandang, Tgk Ismail Syahputra. Kala itu, mereka menyebarkan ideologi tentang Aceh Merdeka. Lama kelamaan, ideologi tersebut kian tertanam di lubuk hati saya,” kenang Ableh.

Mualem adalah gelar disematkan kepada seseorang yang memiliki pengetahuan tinggi tentang ilmu kemiliteran, yang memiliki kemampuan untuk melatih pasukannya.

Akhirnya, di awal tahun 1996, Ableh resmi menyatakan diri bergabung menjadi anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Ideologinya itu muncul, seolah-olah hatinya terpanggil untuk menuntut sebuah ketidakadilan dari pemerintah.

“Atas restu almarhum ayah. Pada tahun 1996, akhirnya saya menyatakan diri siap dibai’at menjadi pejuang GAM,” kata Ableh.

Selama bergerilya di hutan, Ableh bergabung dalam pasukan Piranha. Pasukan besutan almarhum Ahmad Kandang dan Bahtiar alias Pitung pada tahun 2000. Di jajaran elit GAM, pasukan ini dikenal sebagai pasukan petempur khusus dan berada di ring satu mengawal Panglima GAM, Muzakir Manaf.

Alm. Ahmad Kandang dan Pitung. Dok. Pribadi
Alm. Ahmad Kandang dan Pitung. Dok. Pribadi

Saat bergerilya di Hutan, Ableh dikenal sebagai sosok pemberani, tegas dan taat komando. Bahkan, ia sering berada di garis depan saat terjadinya kontak dengan pasukan TNI. Ketika Ahmad Kandang syahid, pasukan Piranha GAM kemudian diambil alih olehnya.

Saat konflik berkecamuk di Aceh, pasukan Piranha dikenal sebagai pasukan pemberani dan memiliki kemampuan khusus dalam bertempur. Rata-rata pasukan yang dikenal bersetelan necis dan rambut direbounding ini dibekali dengan berbagai jenis senjata campuran.

“Secara filosofis, piranha itu meski dikenal ikan yang buas dan brutal. Kendati demikian,  mereka tidak pernah memakan rekannya sendiri. Meskipun lawan yang dihadapinya sangat besar, mereka saling bahu membahu menyerang lawan dengan ganas,” kata Ableh.

Maka tak heran, perang terbuka antara pasukan Piranha dengan TNI dipastikan selalu terjadi. Bahkan untuk mengelabui pihak TNI, ponsel milik Mualem berada di tangan Ableh. Ini semata-mata untuk menghilangkan jejak Mualem agar tidak terendus TNI.

“Kami lakukan ini jika sedang mendesak saja. Mualem sendiri marah jika kami kawal berlapis saat bertempur. Ia bahkan pernah memaksa diri untuk ikut bertempur bersama kami,” kenang Ableh. [ ]

Bersambung….

Tinggalkan komentar