Kisah Ableh: Bergerilya Sendirian di Hutan [3]

TEMPIAS.ID | Banda Aceh – Tanggal 18 Mei 2003, Darurat Militer di Provinsi Aceh diterapkan. Pasukan TNI mulai mendirikan pos-pos kecil di setiap desa. Kondisinya semakin genting, pasukan GAM pun berpencar. Sesuai komando Panglima GAM, Muzakir Manaf alias Mualem, barisan pertahanan GAM mulai memecahkan angggotanya. Begitu halnya dengan pasukan elit Piranha GAM, mereka dikembalikan ke wilayahnya masing-masing.

Baca : Sang Pengawal Panglima [1]

Ableh yang sudah dikenal berani nekat itu menolak dikembalikan ke kamp wilayah. Dirinya memilih bergerilya sendirian ketimbang dikembalikan ke wilayah. Kemudian Sofyan Dawood menyerahkan sepucuk senjata M-16, pistol FN dan satu unit sepeda motor jenis trail untuk dirinya. Meski pertahanan GAM semakin terjepit, Ableh menolak bersembunyi di pedalaman hutan. Ia memilih untuk bergerilya dari daerah yang dekat dengan pemukiman penduduk. Hal ini dikarenakan kesukaan dirinya bertempur meski dirinya hanya terlibat sendirian.

“Selama setahun, saya pernah bergerilya sendirian. Sore atau malam hari, saya sering bermalam dari satu rumah ke rumah warga lainnya. Itulah sebabnya jasa masyarakat Aceh terhadap perjuangan GAM ini sangatlah besar dan tak terhilang harganya,” kenang Ableh sambil berkata terbata-bata.

 

Ableh Bersama Rekan Seperjuangannya Saat Bergerilya di Hutan. Dok. Pribadi
Ableh (kiri) Bersama Rekan Seperjuangannya Saat Bergerilya di Hutan. Dok. Pribadi

Baca : Kisah Ableh : Bergabung Menjadi GAM [2]

Seminggu pasca Darurat Militer disahkan. Pasukan TNI bergerak ke pedalaman Nisam, Aceh Utara. Ableh sedang turun ke pemukiman warga. Rupanya, pergerakan Ableh terendus pihak TNI. Tak lama kemudian, terjadilah kontak tembak antara kedua belah pihak. Suara tembakan yang terus menyalak memakan waktu 3 jam lebih. Kondisi pergerakannya semakin terjepit. Ableh pasrah dan berserah diri kepada Allah. Dalam pikirannya terlintas, sudah ajal menjemput. Namun, Allah berkhendak lain. Ableh berhasil menyelamatkan diri sambil melepaskan tembakan perlindungan ke arah pasukan TNI.

“Saat itu, satu magazine saya habiskan untuk melindungi diri dari kejaran TNI. Saat itu, saya sempat berpikir akan menyusul rekan-rekan seperjuangan yang sudah duluan syahid. Kala itu saya udah pasrah diri, tapi Allah berkehendak lain. Sehingga kita bisa ngopi dan berbaur kembali bersama masyarakat,” tambah Ableh. []

bersambung…..

Tinggalkan komentar