Beranda Sosok Kisah Ableh: Mengawal Panglima GAM (Tamat)

Kisah Ableh: Mengawal Panglima GAM (Tamat)

- Advertisement -

TEMPIAS.ID | Banda Aceh – Awal Maret 2004 silam. Setahun Darurat Militer di Aceh ditetapkan. Sebuah pesan singkat (sms) masuk ke ponsel jadul Ableh. Pesan itu sendiri berasal dari Mualem-sapaan akrab Muzakir Manaf, panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Mualem memintanya untuk ikut dan sekaligus menjadi pengawal pribadinya.

Baca : Kisah Ableh : Sang Pengawal Panglima

Awalnya, Ableh sempat menolak untuk mengawal dan sekaligus menjadi orang kepercayaan Mualem. Bukan karena alasan takut terendus pasukan TNI. Ia beranggapan, dirinya masih belum layak berada di ring satu panglima perang tersebut. Ajakan pertama awalnya tak pernah digubrisnya. Menurutnya, ini sebagai sinyal bahwa masih banyak pasukan GAM lainnya yang layak mengawal Mualem kala itu. Lama kelamaan, Mualem terus membujuknya agar bersedia untuk menjadi pengawal pribadinya.

Watee nyan Mualem geukheun sigoe bak lon. Peu han kadeungoe le perintah lon? Disinan keuh lon hana jeut kujaweueb sapeu. Akhe jih lon seutot gobnyan (Waktu itu Mualem sempat berkata kepada saya. Apa kamu tidak mau mendengar lagi perintah saya? Dari situlah saya tidak bisa menjawab sepatah kata pun. Akhirnya saya ikut bersamanya),” ucap Ableh mengulangi perintah Mualem kepada TEMPIAS.ID, Rabu (12/2).

Baca : Kisah Ableh : Bergabung Menjadi GAM 

Selama menjadi pengawal setia Mualem, dirinya selalu memantau gerak-gerik Mualem. Awalnya, ia merasa agak sedikit segan tatkala melihat langsung aktifitas Mualem. Sosoknya terlihat pendiam, tegas dan disiplin. Meski sering menjadi incaran pasukan TNI, kata Ableh, Mualem bukanlah pribadi yang mundur dari barisan. Bahkan Mualem sendiri sering terlibat langsung berjibaku saat berpas-pasan langsung dengan pasukan TNI.

Baca : Kisah Ableh : Bergerilya Sendirian di Hutan

Meski kondisi tubuhnya sakit, kenang Ableh lagi, Mualem tidak pernah memperlihatkan raut matanya yang sedih dan putus asa. Bahkan, Mualem rela membagi jatah makannya bersama Ableh. Padahal, tubuhnya masih lumayah memerlukan banyak stamina agar segar bugar seperti sedia kala.

Enam bulan kemudian. Pasukan TNI semakin gencar menggempur basis-basis pertahanan GAM. Mualem kembali menarik dua pasukan GAM dari wilayah Peureulak sebagai pengawal dirinya. Keduanya adalah pasukan kepercayaan almarhum Ishak Daud, Panglima GAM wilayah Peureulak, Aceh Timur. Ishak Daud semasa hidupnya dikenal sebagai tokoh GAM paling berpengaruh. Pria yang akrab disapa Abusyik ini selain dikenal tampan, juga memiliki kharisma, pengetahuan luas dan cakap berbicara.

Maka tak heran, jika pasukan GAM kepercayaan almarhum Ishak Daud merupakan pasukan pilihan. Sehingga cermat dan paham akan kondisi genting di medan perang. Pada pertengahan April 2004, kedua pasukan GAM terbaik ini syahid pada sebuah pertempuran dahsyat di wilayah pedalaman Aceh Utara. Mengetahui situasinya semakin memanas, Mualem kemudian kembali merekrut sejumlah anggotanya dari pasukan Piranha. Mereka adalah pasukan GAM yang nama sandinya dipanggil Labu, Dek Cut alias Adi Gondrong, Ayah Ija krong dan Wan supir.

“Kadang-kadang, saya jadi agak malu dengan diri sendiri dan sedih melihat kondisi Mualem saat itu. Tapi raut wajahnya terlihat santai dan biasa saja. Tidak terlihat seperti seorang penakut dan putus asa meskipun saat itu hampir tiap hari dibombardir pasukan TNI, baik dari darat maupun udara. Inilah yang menjadi semangat perjuangan kami meski berbagai rintangan yang dihadapi,” ucap Ableh mengakhir pembicaraan.[]

- Advertisement -
- Advertisement -

Stay Connected

16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Must Read

- Advertisement -

Related News

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here