Beranda Sosok Kisah Ableh, Sang Pengawal Panglima  

Kisah Ableh, Sang Pengawal Panglima [1]  

- Advertisement -

TEMPIAS.ID | Banda Aceh – Setelah membuat janji, akhirnya saya berkesempatan untuk bertatap muka dengan Muchtar Hanafiah alias Ableh. Ia adalah mantan Komandan Pasukan Piranha, satuan elit komando sayap militer Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

“Saya sedang di Peunayong, di cafe tepi kali. Kita ngopi sambil bincang-bincang santai disini,” kata Ableh lewat aplikasi Whatsapp kepada TEMPIAS.ID, Sabtu (1/2) malam.

Lima belas menit kemudian, saya tiba ke lokasi ditujukan Ableh. Saya pun langsung disambut hangat oleh sosok berpostur tinggi ini. Meski dikenal sebagai elit di jajaran Komite Peralihan Aceh (KPA), pria berusia 42 tahun ini menolak untuk dikawal.

Sembari menyeruput segelas kopi, Ableh tampak sumringah. Ia sekali-kali berkisah tentang penggalan-penggalan kisah hidupnya. Terlalu banyak riwayat yang diceritakan mendetil. Sekilas Ableh terlihat sosok yang dingin, tertutup, dan hemat bicara. Tapi kenyataannya, Ableh adalah sosok yang enak diajak bicara.

Terkadang ia tertawa lepas saat mengenang kisah lucu. Terkadang mimiknya terlihat haru dan serius saat mengenang masa-masa bersama rekan seperjuangannya ketika masih bergerilya di pedalaman hutan Aceh.

Saat konflik berkecamuk di Aceh, Ableh termasuk incaran nomor wahid pihak TNI. Setiap kali berhadapan dengan pasukan Piranha yang komandoinya, perang terbuka dengan TNI dipastikan selalu terjadi. Ini dikarenakan pasukan Ableh merupakan pengawal pribadi Panglima GAM, Muzakir Manaf alias Mualem.

Pasca perjanjian damai antara Pemerintah Republik Indonesia dengan GAM pada 15 Agustus 2005, Ableh kembali berbaur bersama masyarakat. Kini ia memegang tampuk kekuasaan sebagai Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Kuta Pase di Lhokseumawe.

KPA adalah organisasi yang dibentuk setelah dibubarkan salah satu sayap militer GAM. Ketika itu Tentara Nanggroe Aceh (TNA) pasca Nota Kesepahaman perjanjian damai antara Pemerintah RI dengan GAM dilaksanakan di Helsinki, Finlandia. Perjanjian damai itu sendiri ditandatangi langsung oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI yang diwakili oleh Hamid Awaluddin. Sedangkan pihak GAM sendiri diwakili oleh Perdana Menteri GAM, Malik Mahmud dan dimediasi oleh CMI dan juga mantan Presiden Finandia, Martti Ahtisaari.

Adapun Perdana Menteri GAM, Malik Mahmud kini dipercaya masyarakat Aceh sebagai Wali Nanggroe Aceh.

“Di berbagai kesempatan, Mualem selaku panglima selalu meminta kita terus solid dan kompak. Yang terus diprioritaskan adalah terus bersinergi memikirkan nasib dan masa depan Aceh bersama-sama,” kata Ableh.

Untuk mewujudkannya itu, Ableh bersama rekan-rekan seperjuangannya ekstra untuk menjaga nama baik Partai Aceh. Baginya, ia sangat haqqul yaqin jika masyarakat Aceh masih menaruh harapan besar kepada Partai Aceh. Ini tidak lepas dari peran dan kiprah Partai Aceh yang terus memperjuangkan segala bentuk kewenangan dan kekhususan Aceh secara utuh.

Ia juga berharap kepada seluruh eks-kombatan maupun kader Partai Aceh agar terus saling bahu-membahu memenangkan kader-kader terbaik Partai Aceh. Hal ini sesuai arahan Mualem selaku Ketua KPA/PA agar saling merangkul dan tidak saling menghasut, benci membenci antarsesama kader Partai Aceh.

“Kita masih haqqul yaqin orang Aceh masih mencintai Partai Aceh. Partai Aceh-lah yang saat ini masih konsisten terhadap perjuangan butir-butir MoU Helsinki dan turunan UUPA. Meski pada hakikatnya, hasil yang telah diperjuangkan nantinya bukan semata-mata demi Partai Aceh atau golongan tertentu, tapi untuk seluruh rakyat Aceh,” kata Ableh.

Malam semakin pekat. Mata Ableh mulai terlihat.

“Besok kita sambung lagi ya, ngopi santai seperti biasa,” tutup Ableh.

 [ bersambung…..]

- Advertisement -
- Advertisement -

Stay Connected

16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Must Read

- Advertisement -

Related News

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here