Kisah Warga Aceh Berpuasa 17 Jam Lebih di Norwegia di Tengah Covid-19

TEMPIAS.ID | Oslo – Ada suasana berbeda yang dirasakan umat muslim saat menjalani ibadah puasa di tengah pendemi covid-19. Kegiatan ibadah selama bulan suci Ramadhan disarankan untuk dilaksanakan di rumah saja.

Kisah ini datang dari salah satu warga Aceh yang bermukim di Norwegia. Kepada TEMPIAS.ID, pri bernama Abbas Ridwan menjalani ibadah puasa di tengah pendemi covid-19. Selain durasi yang cukup panjang, umat muslim setempat diberi cobaan masuknya musim semi. Ini dikarenakan sangat rentan terkena berbagai macam penyakit di tengah wabah corona. Kisah ini diceritakan Abbas Ridwan, warga Aceh yang menetap di kota Stavanger, Norwegia.

“Disini  imsak pukul 4.30, sedangkan waktu ifar (berbuka puasa) pada pukul 21.19,” kata Abbas Ridwan kepada TEMPIAS.ID via Whatapps, Minggu (26/4).

Menurutnya, durasi puasa di Stavanger, kota tempat tinggalnya, lebih pendek bila dibandingkan dengan wilayah Norwegia Utara yang bisa mencapai 20 jam. Durasi puasa tahun ini lebih pendek dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, umat muslim di belahan utara Norwegia menjalani puasa saat musim panas tiba, yakni mulai Juni dan Juli). Artinya, umat Muslim harus menahan lapar dan haus selama 20 jam bahkan lebih.

“Kalau puasa jatuh musim panas, matahari tidak tenggelam sempurna hingga tengah malam. Biasanya terlihat temaram, sehingga waktu malam singkat sekali. Jadi, usai berbuka puasa dan salat magrib, kami langsung bergegas ke masjid untuk tarawih. Sesudah tarawih, kami langsung pulang untuk sahur kembali,” kata Abbas Ridwan.

Abbas merupakan salah satu dari 350 warga Aceh sudah menetap di Norwegia sejak tahun 2003 lalu. Ia tiba di negara Skandinavia sebagai pencari suaka politik. Meski tinggal jauh dari tanah air dan sanak familinya, tidak menyurutkan hatinya untuk melupakan tradisi Aceh. Salah satunya adalah perayaan “meugang” dan “tot leumang”.

Menurutnya, daging halal dan makan-makanan khas Asia bisa mudah mereka dapatnya di toko-toko Muslim yang termasuk kategori mahal dan antri.

“Bambu disini sangat susah dicari. Kalaupun ada, itu cuma dijual di toko Asia. Kami biasanya pakai pipa alumunium sebagai gantinya.  Walaupun tidak khas seperti rasa leumang di kampung pada umumnya, asalnya mencukupi syaratnya saja,” kata Abbas Ridwan. []

Must Read

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here