Kisah Warga Aceh Jalani Puasa 17 Jam di Tengah Covid-19 di Denmark

TEMPIAS.ID | Kompenhagen – Menjalani ibadah puasa di Benua Eropa menjadi tantangan sendiri. Selain masalah perbedaan budaya dimana mayoritas non-muslim kerap melakukan aktivitas makan dan minum, juga durasi berpuasa lumayan panjang.

Mungkin sedikit lebih mudah bagi perantau Aceh jika berpuasa di negera-negara kawasan Timur Tengah yang mayoritas bergama Muslim. Tapi kondisinya sangat jauh berbeda bagi warga Aceh yang berpuasa di negara Eropa, khususnya Denmark.

Pengalaman ini dirasakan Muzakir (40), warga Aceh yang telah lama menetap di negara tersebut. Dihubungi TEMPIAS.ID, Sabtu (25/4), Muh-sapaan akrabnya yang tinggal di kota Aalborg, sekitar 400 KM dari ibukota Copenhagen harus berpuasa sekitar 17 jam.

“Imsak disini mulai pukul 03.00, sedangkan iftar (buka pusa) pukul 20.45,” kata Muzakir kepada TEMPIAS.ID via layanan Whatapps.

Pria asal Tangse, Kabupaten Pidie ini mengaku,waktu berpuasa bagi warga muslim di sana cukup lama, tetapi tidak menyurutkan langkah mereka untuk tetap menjalankan salah satu rukun Islam tersebut. Meski sudah menetap satu dekade lebih, generasi bangsa Aceh di sana tetap berpegang teguh dengan adat istiadat Aceh yang kental dengan syariat Islam.

“Bahpih sinoe kamoe katrep tinggai dan kana generasi baro bansa Aceh sinoe, kamoe teutap hana tuwoe ilmee agama ngon adat istiadat Aceh. Aneuk-aneuk kamoe sinoe mantong meupeureunoe bahasa Aceh. Meunyoe bahasa Inggreh ngon Danish (bahasa Denmark-red) awaknyan dipeugah di sikula ngon di luwa rumoh (biarpun di sini kami sudah lama tinggal di sini dan sudah ada generasi baru bangsa Aceh, kami tetap tidak melupakan ilmu agama dan adat istiadat Aceh. Bahkan anak-anak kami di sini masih kami ajarkan bahasa Aceh. Sedangkan bahasa Inggris dan Norsk mereka gunakan di sekolah dan di luar rumah),” tambah Muzakir.

Selama pendemi Covid-19, menjalani ibadah selama Ramadhan sangatlah sukar. Pihak Kerajaan Denmark menghimbau agar seluruh sarana publik diterapkan aturan physical distancing (jaga jarak). Kendati demikian, tak menyurut Langkah dan antusiasme umat muslim untuk meningkatkan ibadah lainnya.

Saat ini warga Denmark memilih untuk tidak bekerja dengan alasan wabah corona. Mereka memilih tetap berada di rumahnya hingga pendemi Covid-19 berakhir.

“Walaupun mereka sudah keluar kerja, tetap disubdisi oleh pihak kerajaan dan perusahaan. Bayarannya setara dengan gaji per bulannya. Rata-rata berkisar 16 ribu Kroner atau setara Rp 36 Juta,” kata Muzakir.

Dalam menangani warganya, Denmark sangatlah professional dan terorganisir. Negara yang ditetapkan sebagai negara anti korupsi di dunia ini sangat ramah bagi semua penduduk, baik lokal maupun pendatang. Artinya, tidak pernah ada pemberlakuan diskriminatif antar sesama warga asli dengan pendatang.

“Dari pelayanan medis ataupun lainnya, kita tidak pernah dibedakan disini. Setiap warga dijamin keamanan disini,” kata Muzakir.

Muzakir salah satu warga Aceh yang menetap di Denmark. Ia pertama kali menginjakkan kakinya ke negeri Skandinavia sejak tahun 2004 sebagai pencari suaka politik. Pasca perdamaian MoU Helsinki ditandatangi, sebagian warga Aceh yang tinggal di luar negeri memilih kembali pulang ke kampung halamannya. []

Must Read

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here