Mencicipi Lezatnya Mie Udeueng Wat Khas Meunasah Geudong

TEMPIAS.ID | Aceh Utara –  Aceh terkenal memiliki beragam kuliner enak dan selalu bikin ketagihan. Salah satu sajian yang cukup populer di berbagai daerah adalah mie Aceh. Rasanya lezat dan mudah didapatkannya. Sehingga menjadi banyak alasan mengapa warga Aceh umumnya lebih menyukai olahan mie Aceh. Dalam sejarah makanan disebutkan, mie Aceh merupakan perpaduan antara budaya Aceh, India dan Cina. Kuah karinya yang kental adalah pengaruh India, sedangkan mie merupakan pengaruh Cina.

Mie Aceh sendiri disajikan dengan berbahan bahan pelengkap, seperti daging sapi, daging kambing, cumi, lobster, kepiting dan udang. Tampilannya pun beragam, mulai dari porsi sederhana hingga mewah.

Udang windu yang diperoleh dari tambak milik warga. Foto : Taufik Ar Rifai/TEMPIAS.ID
Udang windu yang diperoleh dari tambak milik warga. Foto : Taufik Ar Rifai/TEMPIAS.ID

Kali ini, saya berkempatan mencoba kuliner mie udeueng wat khas Meunasah Geudong, sebuah desa yang terletak Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara.

Udang windu yang diperoleh dari tambak milik warga. Foto : Taufik Ar Rifai/TEMPIAS.ID
Udang windu yang diperoleh dari tambak milik warga. Foto : Taufik Ar Rifai/TEMPIAS.ID

Udeueng wat dalam bahasa Aceh berarti udang windu (Giant tiger). Setelah kepala dan kulitnya dicuci bersih, daging udang kemudian dimasukkan ke dalam mie Aceh dan bumbu rempahnya. Bahan lain yang dipersiapkan adalah kol, tomat, cabe rawit, bawang putih dan barang merah. Bahan-bahan tersebut lalu ditumis bersama udang windu dan dicampur dengan bumbu merah dan kecap.

Lokasi ini hanya berjarak sekitar 9 km dari jalan lintas nasional Banda Aceh – Medan.

Bila hendak ke lokasi, maka kita akan melewati hamparan persawahan dan tambak milik warga yang membentang luas. Setiba di lokasi, warungnya pun terlihat sederhana tanpa plang nama. Warung itu milik Zain Ukhrawi (31), warga setempat.

Zain Ukhrawi, selaku pemiliknya, mie udeung wat khas miliknya itu baru berdiri sejak 2016 lalu. Warga awalnya mencoba mencicipi mie miliknya ditambah udang windu. Pasalnya, udang bernilai ekspor tinggi sangat mudah didapati tak jauh dari tambak warga.

“Jadi udang yang disajikan masih segar dan alami karena belum beralih tangan kepada agen,” kata Zain Ukhrawi.

Selain lezatnya mie Udang Windu, pengunjung juga disuguhkan udang windu goreng dan dibumbui kecap. Foto : Taufik Ar Rifai/TEMPIAS.ID
Selain lezatnya mie Udang Windu, pengunjung juga disuguhkan udang windu goreng dan dibumbui kecap. Foto : Taufik Ar Rifai/TEMPIAS.ID

Setiap harinya, ia menghabiskan rata-rata lebih dari 50 porsi per harinya. Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati udang goreng spesial yang dibumbui garam dan jeruk nipis. Sekedar informasi, udang windu mudah diperoleh dari tambak milik warga sekitar.

Jadi, selain menikmati lezatnya mie Aceh warga disini boleh menikmati sajian udang goreng gurih memanjakan lidah.

Mie udeueng wat saat ditumis. Foto : Taufik Ar Rifai/TEMPIAS.ID
Mie udeueng wat saat ditumis. Foto : Taufik Ar Rifai/TEMPIAS.ID

Salah satu pengunjung, Mukhsin Rizal mengaku sangat menikmati kelezatan mie Aceh tersebut. Ia berharap, cita rasa dan aroma khasnya terus dijaga sehingga jatidirinya terus terjaga.

“Sajiannya sungguh istimewa. Namun sajian ini sebaiknya jangan dikonsumsi berlebihan, khususnya bagi penderita kolestrol tinggi dan malas berolahraga,” kata Mukhsin Rizal.

Mie Udeueng Wat siap dihidangkan. Foto : Taufik Ar Rifai/TEMPIAS.ID
Mie Udeueng Wat siap dihidangkan. Foto : Taufik Ar Rifai/TEMPIAS.ID

Lama kelamaan, warung mie miliknya kian tenar dan mulai dikunjungi warga. Lezatnya mie udeueng wat dan desauan angin yang berhembus manja di pematang sawah menambah suasana kian teduh. Setiap porsinya, pegunjung dapat merogoh kocek sebesar Rp 10 ribu.

“Itu belum termasuk harga udangnya. Karena udangnya kita harus membelinya sendiri di tambak warga sekitar,” pungkas Zain Ukhrawi. []

Must Read

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here