Mengaku Kopassus dan Miliki Senpi, Seorang Pria Diamankan Polres Aceh Tengah

TEMPIAS.ID | Takengon – Tim Satreskrim Polres Aceh Tengah mengamankan seorang pria tindak pidana penipuan. Pria berinisial HW (40), warga Desa Bukit Nanas, Kecamatan Bukit Kapur, Dumai, Kepulauan Riau. Dalam penangkapan tersebut, turut melibatkan personil TNI setempat. Pasalnya, pria tersebut mengaku sebagai anggota TNI berpangkat Kolonel dari satuan Kopassus. Dalam penangkapan itu, turut diamankan satu pucuk senjata api rakitan dari tangan pelaku.

Kapolres Aceh Tengah, AKBP Nono Suryanto melalui Kasatreskrim Iptu Agus Riwayanto Diputra mengatakan, tersangka sudah enam bulan berada di Aceh Tengah.

“Selama ini, tersangka melakukan tindak pidana penipuan dengan modus bisa memasukkan orang menjadi anggota TNI. Untuk meyakinkan korban, tersangka meminta sejumlah uang kepada korbannya,” kata Iptu Agus Riwayanto Diputra via telepon seluler, Rabu (1/7).

Menurutnya, tersnagka diringkus petugas gabungan pada 24 Juni 2020 lalu. Hal ini berdasarkan laporan korban berinisial AR (47) warga Desa Bies Penantanan, Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah. Korban tersebut sebelumnya telah menyerahkan uang kepada tersangka sebesar Rp 5 Juta. Menurutnya, uang tersebut sebagai uang muka sebagai syarat untuk masuk sebagai anggota TNI. Namun, korban mulai menaruh curiga atas sikap pelaku. Korban pun berinisiatif untuk melakukan pengecekan terhadap identitas tersangka.

Pada 24 Juni 2020 lalu, korban AR kemudian menghubungi anggota Unit Intel Kodim untuk menanyakan identitas HW. Pasalnya, selama ini tersangka HW mengaku sebagai anggota Kopassus berpangkat Kolonel. Menindaklanjuti hal itu, anggota Unit Intel Kodim mendatangi rumah korban dan sekaligus memboyong tersangka ke Mapolres Aceh Tengah.

Berdasarkan interogasi petugas, tersangka HW mengaku telah melakukan tindak pidana penipuan terhadap korban AR.

“Uang sebesar Rp 5 Juta tersebut sebagai uang administrasi dan sekaligus jaminan anak korban untuk bisa masuk TNI Kopassus di Batu Jajar, Jawa Barat,” katanya lagi.

Iptu Agus Riwayanto menambahkan, awalnya tersangka HW mematok biaya sebesar Rp 40 Juta sebagai biaya pengurusan korban agar diterima sebagai anggota TNI. Namun korban baru menyerahkan uang sebesar Rp 5 Juta kepada tersangka sebagai uang muka dan sisanya akan diserahkan dikemudian hari. Untuk meyakinkan korbannya, tersangka HW memperlihatkan satu pucuk pistol rakitan kepada korban untuk dipegang. Selama ini, tersangka HW mengaku sudah berdinas di Aceh Tengah selama tiga tahun.

“Selain pistol rakitan, kita turut menyita empat butir amunisi dan satu unit sepeda motor jenis Vixion bernomor polisi BL 4802 UU dari tersangka,” tambahnya.

Ketika ditanyai senjata api rakitan miliknya, tersangka HW mengaku membelinya dari seorang warga Medan seharga Rp 2,5 juta. Petugas Polres Aceh Tengah kemudian akan melakukan koordinasi dengan Polda Sumatera Utara dalam mengusut status kepemilikan senjata api rakitan tersebut. Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka akan dikenakan pasal berlapis yakni tentang kepemilikan senjata api ilegal, penipuan dan sekaligus mengaku-ngaku sebagai anggota TNI.

Untuk kepemilikan senjata api tanpa izin tersangka diancam dengan ancaman hukuman mati, atau hukuman penjara seumur hidup, atau setinggi-tingginya dua puluh tahun penjara. Hal ini sesuai ketentuan Pasal 1 Ayat 1 UU Darurat RI Nomor 12 Tahun 1951.

“Saat ini tersangka telah diamankan di Mapolres Aceh Tengah untuk penyelidikan lebih lanjut. Untuk penipuan uang kita kenakan Pasal 372 KUH Pidana dengan ancaman hukuman paling lama empat tahun penjara. Sedangkan untuk mengaku-ngaku sebagai anggota TNI dengan maksud menguntungkan diri sendiri kita kenakan pasal 378 KUH Pidana dengan ancaman paling lama empat tahun penjara,” pungkasnya. []

Must Read

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here