Mengenang 16 Tahun Syahidnya Ishak Daud, Panglima GAM Peureulak

TEMPIAS.ID | BANDA ACEH – Tanggal 8 September 2004 lalu, menjadi hari berkabung bagi perjuangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Pasalnya, salah satu pimpinan tertinggi GAM, Tgk Ishak Daud syahid dalam pertempuran dengan TNI di kawasan Babah Krueng, Peureulak Timur, Aceh Timur. Abusyik-sapaan akrab almarhum bersama 11 pengawal setianya syahid dalam sebuah pertempuran hebat dan terbuka. Dalam kejadian itu, istrinya Cut Rostina juga syahid bersama dalam pertempuran terakhir tersebut.

Berita syahidnya Panglima GAM wilayah Peureulak tersebut kemudian menjadi sorotan publik. Sejak peristiwa itu, GAM berduka. Untuk mengenang syahidnya Ishak Daud, pasukan GAM mengibarkan bendera Bintang Bulan setengah tiang. Dalam barisan perjuangan GAM, Ishak Daud dikenal sebagai sosok panglima yang sangat disegani dan dihormati. Berbekal pengetahuan latihan militer di Libya, sosok Ishak Daud dikenal memiliki segudang pengalaman dan ilmu gerilya di hutan belantara pedalaman Aceh Timur. Di kalangan GAM, pria berparas tampan dan berpostur tinggi ini dipanggil “abusyik (kakek)”. Nama itu sengaja disematkan kepadanya sebagai sosok yang dituakan dan dihormati oleh anak buahnya.

Meski bergerilya di hutan, Ishak Daud dikenal sosok berpenampilan rapi dan necis. Kemanapun berada, ia kerap menenteng senjata AK 47 dan sepucuk pistol jenis FN terselip di pinggangnya.

Ishak lahir di Desa Blang Glumpang Kuala Idie, Kecamatan Idie Rayeuk, Aceh Timur pada 12 Januari 1960. Ia adalah anak pertama dari pasangan Muhammad Daud bin Tengku Basyah dan Nuriah. Semasa kecil, Ishak tinggal di lingkungan desa yang rata-rata hidup di bawah garis kemiskinan. Ayahnya bekerja sebagai nelayan, sedangkan ibunya berjualan kue. Ishak Daud merasa tidak pernah puas dengan kondisi itu, pada awal tahun 1984, saat usianya 24 tahun, Ishak memutuskan merantau ke Malaysia.

Di negeri jiran itu, Ishak Daud bekerja serampangan, sebagai kuli bangunan atau penjaga restoran. Karena tak tahan hidup seperti itu di Malaysia, Ishak Daud memutuskan merantau ke Singapura. Apalagi banyak orang Aceh di negeri situ. Sama seperti di Malaysia, Ishak Daud juga bekerja serabutan, dari buruh bangunan hingga sopir angkutan. Di Singapura pula Ishak Daud mulai mengenal Gerakan Aceh Merdeka, apalagi saat itu banyak aktivis Aceh Merdeka menggelar pertemuan politik. Praktis, selama bekerja di Singapura Ishak sering mengikuti pertemuan tersebut. Ini pula yang membuka wawasannya tentang sejarah Aceh. Pada Juni 1987, Ishak akhirnya disumpah oleh Tengku Abdullah Musa sebagai anggota GAM. Apalagi Hasan Tiro yang mengendalikan GAM dari Swedia butuh pemuda Aceh untuk dididik pendidikan militer dan dikirim ke Libya. Ishak Daud termasuk dalam rombongan 40 orang pemuda Aceh yang dikirim ke Libya.

Sepulang dari Libya, Ishak Daud singgah di Singapura selama 12 hari. Ia pun memutuskan pulang ke Aceh melalui Pelabuhan Tanjung Balai. Dari sana ia naik bus dan kembali ke kampung halamannya di Idi Rayeuk. Awalnya dia bekerja sebagai pedagang Ikan dan diam-diam merekrut pemuda untuk terlibat GAM. Ishak termasuk tokoh pertama yang mengibarkan bendera Aceh Merdeka di SMA Idi Rayeuk, Aceh Timur pada 4 Desember 1989 setelah pengibaran bendera di Gunung Halimun, Pidie, yang dilakukan Hasan Tiro pada 4 Desember 1976.

Menurut penuturan Umar, almarhum dikenal sebagai sosok tegas dan punya komitmen tinggi. Umar adalah pengawal setia sang panglima paling tenar di era tahun 2000-an tersebut.

“Abusyik meunyoe ka geupeugah A tetap A, hana meugantoe (Abusyik kalau sudah bilang A tetap A, tidak akan terganti),” kenang Umar. []

***Tulisan ini dikutip dari berbagai sumber.

Tinggalkan komentar