Beranda News Romansa Bukit Amor dan Kisah Perempuan Pemetik Kopi

Romansa Bukit Amor dan Kisah Perempuan Pemetik Kopi

- Advertisement -

 TEMPIAS.ID | Bener Meriah – Jemari wanita ini terlihat gesit dan lincah ketika memetik buah kopi yang sudah merah. Tak puas dari satu pohon, ia berpindah ke pohon lainnya. Dalam sekejap, biji-biji kopi ranum tersebut sudah memenuhi keranjang yang disikap pada lengan kirinya.

Wanita itu bernama lengkap Sri Lestari (30). Ia adalah warga desa Pondok Sayur, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah. Pertemuan itu berlangsung pada akhir Desember 2019 lalu. Disana, dirinya tak sendirian. Ia turut dibantu seorang kakak dan dua anaknya. Mereka adalah tukang upah pemetik kopi di ladang Fauzan Alia, sang pemilik kebun di kampungnya.

Sejak berpisah dengan suaminya empat tahun lalu, wanita berpostur kurus ini menjadi tulang punggung keluarganya. Sosoknya terlihat santun namun irit bicara. Senyumannya hanya sesekali terlihat mengembang tatkala saya mencoba menyapanya.

“Maaf bang, sebentar lagi mau hujan kayaknya. Jadi saya agak buru-buru sedikit, takutnya nanti gak terkejar target petiknya,” ucap Sri Lestari dengan sopan.

Saya pun menggangguknya tanda setuju. Namun, masih tetap membujuknya agar bersedia untuk berbagi cerita dan pengalaman denganku sehabis Dzuhur.

Usai Dzuhur, Sri akhirnya bersedia menemuiku di gubuk milik Fauzan. Awalnya, ia berjanji hanya bersedia duduk sebentar saja, tapi atas persetujuan Fauzan, dirinya mau berbagi kisah denganku hingga beranjak petang.

Perempuan pemetik kopi arabica khas Gayo di Bener Meriah. Foto : Taufik Ar Rifai/TEMPIAS.ID
Perempuan pemetik kopi arabica khas Gayo di Bener Meriah. Foto : Taufik Ar Rifai/TEMPIAS.ID

Sri Lestari yang hanya mengenyam pendidikan hingga kelas 2 SMU ini mengaku, sudah bergantung hidupnya sebagai pemetik kopi. Besaran upah yang diperoleh tergantung dari hasil kopi yang dipetiknya.

“kalo banyak dipetik, makin banyak bayaran kita dapat. Apalagi lagi musim panen begini alhamdulillah bisa dapat Rp 80 hingga Rp 100 ribu tiap hari,” kata Sri Lestari.

Setiap harinya, Sri Lestari dibantu anak-anaknya bisa memetic 7 hingga 8 kaleng. Setiap kalengnya bisa mencapai 10 kilogram dengan upah Rp 20 ribu. Akan tetapi, musim panen kopi hanya bisa digelutinya setahun sekali, yakni awal Desember hingga Penghujung Maret. Sisanya, ia hanya pasrah kepada nasib sebagai buruh harian atau menjadi pedagang asongan.

“Ya, mau gimana lagi karena bulan itu aja musim petiknya. Palingan nyari kerjaan lain aja dulu, asalkan halal,” ucap Sri Lestari.

Hal senada juga diungkapkan Fauzan Alia, sang pemilik kebun kopi. Sosok yang akrab disapa Fauzan Blang ini mengaku, saat ini belum ada keseriusan pemerintah setempat untuk memberdakan serta memperhatikan nasib petani kopi.

“Padahal kopi Gayo ini kan sudah terkenal di seantro Nusantara, bahkan hingga ke mancanegara. Tapi lihat nasib saudara kita disini sebagai pemetik kopi yang mayoritasnya dikerjakan oleh perempuan. Upah mereka sangat sedikit sekali. Padahal mereka sangat berkontribusi besar terhadap produksi kopi arabica ini,” timpal Fauzan lagi.

Menurutnya, kontribusi para pemetik kopi di kebun maupun penyortir kopi di pabrik-pabrik tidak membawa perubahan terhadap nasib perekonomian mereka. Ternyata keharuman dan citarasa kopi Gayo yang telah dikenal di berbagai belahan dunia, masih belum mampu mengharumkan kehidupan ekonomi para pekerjanya.

“Ya, harapan kita ke depan harus ada perhatian serius dari pemerintah kita. Paling tidak  mereka bisa mendapat upah layak sesuai UMP beserta jaminan kesehatan lainnya. Jangankan untuk kebutuhan lain, kadang-kadang  upah harian merka hanya cukup membeli dua gelas espresso saja jika dilihat dari penghasilan bersih mereka,” kata Fauzan Alia.

Kopi Arabica khas Tanoh Gayo.  Foto : Taufik Ar Rifai/TEMPIAS.ID
Kopi Arabica khas Tanoh Gayo. Foto : Taufik Ar Rifai/TEMPIAS.ID

Di atas bukit, sinar mentari mulai condong ke ufuk barat. Hawa dingin kian terasa menusuk tulang. Sri Lestari beserta kakak dan anak-anaknya berpamitan kembali pulang ke rumahnya. Saya dan Fauzan juga bergegas meninggalkan perbukitan. Di atas sepeda motor yang diboncengi Fauzan meliuk-liuk melewati perbukitan dan lembah. Sepanjang perjalanan, mata saya terus memandangi hamparan puncak-puncak bukit yang berpadu padan dengan lembah telah diselimuti kabut tebal. Hawa dingin kian terasa takkala matahari menghilang dan berganti malam.  Kabut tebal kian terus menyebar hingga ke pemukiman warga.

Begitulah sekelumit kisah Sri Lestari. Ia adalah salah satu potret  dari sekian pemetik kopi Arabica khas Gayo yang kini masih hidup di bawah garis kemiskinan. Terbayang betapa hebat dan sejatinya mereka karena telah berkontribusi terhadap kopi Gayo terkenal hingga ke seantero dunia meski belum memperoleh hasil yang memadai. [ ]

- Advertisement -
- Advertisement -

Stay Connected

16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Must Read

- Advertisement -

Related News

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here