Sulaiman Abda, Sang Konseptor

“Bahpih ulon hana menjabat le, insya Allah akan teutap usaha bantu syedara-syedara geutanyoe. Walaupun hana memadai lagee awai (biarpun saya tidak menjabat lagi, insya Allah masih akan tetap membantu saudara-saudara. Walaupun bantuannya tidak seperti sedia kala)”.

Penggalan kalimat itu diucapkan Sulaiman Abda saat menjamu tamu-tamu di Rumoh Aceh greenhouse miliknya di Tibang, Banda Aceh.

Setiap hari, khususnya Ba’da Subuh, politisi kawakan Partai Golkar ini selalu membuka pintu rumah selebar-lebarnya bagi semua tamu dari berbagai kalangan bersilaturrahmi dengannya . Mereka yang bertandang ke rumah Ayah Leman-sapaan akrab Sulaiman Abda pun beranekaragam. Mulai dari diskusi ringan soal kekinian Aceh, pendidikan, ngobrol santai hingga soal pelik tentang keharmonisan dalam bahtera rumah tangga yang kadangkala bikin geleng-geleng kepala.

“Coba lihat sendiri, nak. Padahal masalah rumah tangga sendiri biarpun bukan pekerjaan kita, tetap saja tamu meminta pendapat kita. Insya Allah kita usahakan juga,” kata Sulaiman Abda kepada TEMPIAS.ID di penghujung Januari 2020 silam.

Ayah Leman resmi purnatugas di kursi legislatif 2019 lalu. Kini, putra asli Teupin Raya, Kabupaten Pidie ini kembali berbaur dengan masyarakat.

Sikapnya tegas dan lugas, ia terus bergerak. Dan geraknya selalu dalam pola segiempat, yaitu bekerja, silaturahim, membantu dan terpercaya.

Sebagai tokoh vokal di kancah parlementaria, saya sangat menaruh perhatian banyak kepada politikus kawakan dari Partai Golkar ini. Sehingga kiprahnya untuk terus berjuang demi kemasalahatan semua masyarakat Aceh.

Di kalangan masyarakat Aceh, Sulaiman Abda ini dikenal sebagai salah satu politisi yang paling dekat dengan konstituennya. Ia termasuk salah satu tokoh yang menjadi perbincangan hangat dari setiap lapisan masyarakat. Pasalnya, kinerjanya semasa menjabat Wakil Ketua DPRA periode 2014-2019 ini dikenal sebagai sosok yang memiliki ponten positif.

Ketika ditanyai apakah akan kembali mencalonkan diri pada kontestasi Pilkada 2022 mendatang, ia menampiknya. Dirinya lebih berkonsentrasi penuh menghabiskan masa tuanya sebagai warga masyarakat biasa. Ia beralasan, sudah saatnya generasi muda sebagai pemegang estafet pembanguan Aceh ke depan. Pun demikian, pintu rumahnya terbuka lebar, khususnya bagi kawula muda untuk berdiskusi dengannya.

“Sekarang Ayah lebih santai dengan aktifitas sekarang. Artinya beban amanah rakyat sudah lumayan berkurang di pundak. Jika ada adik-adik mahasiswa atau siapa saja ingin bersilaturrahim tentu saja akan kita terima. Asalkan tujuan kita satu, yaitu membangun Aceh bersama-sama tanpa membedakan kelompok manapun,” kata Sulaiman Abda. [ ]

Must Read

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here