Beranda News   Sumringah Inong Balee Bersama Al Farlaky  

  Sumringah Inong Balee Bersama Al Farlaky  

- Advertisement -

TEMPIAS.ID | Aceh Timur – Cuaca terik yang menyelimuti wilayah timur Aceh tak menyurutkan Langkah Iskandar Usman Al-Farlaky bersilaturrahmi dengan warga. Ada kisah menarik dalam kunjungan politisi Partai Aceh pada Selasa (5/5) kemarin.

Dua unit mobil minibus melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan nasional Banda Aceh – Medan. Mobil jenis Innova warna abu-abu melaju paling depan. Itu adalah mobil yang disupiri langsung Iskandar Usman Al-Farlaky, anggota DPR Aceh.

Selama sepekan lebih, kunjungan ke wilayah Aceh Timur, Al Farlaky seolah mengejar waktu untuk bersilaturrahmi bersama warga. Kunjungannya untuk mengantarkan bantuan sembako kepada warga. Kali ini, sasarannya adalah inong balee dan lanjut usia (lansia).

Setiba di jembatan Arakundo, satu unit mobil sudah menunggunya disana. Mereka adalah kombatan GAM Simpang Ulim, yakni Fadhil Muhammad, mantan anggota DPRK Aceh Timur. Ia bersama dengan teman-temannya. Kombatan inilah yang bertugas langsung menyalurkan bantuan sembako ke pedalaman Aceh Timur.

Sebelumnya, Al Farlaky bersama rombongannya bergerak ke kawasan Simpang Ulim. Mereka mengunjungi sejumlah rumah milik Inong Balee. Pasalnya, inong balee sangat berjasa dalam menampung gerilyawan GAM semasa konflik berkecamuk di Aceh.

“Ada juga istri dari pasukan GAM yang sudah syahid masa konflik. Sesuai instruksi Mualem, mereka menjadi tanggungjawab kita untuk menafkahinya. Mereka membesarkan anak-anaknya dengan penghasilan yang tidak pasti,” kata Iskandar Al Farlaky.

Rombongan Al Farlaky dan Fadhil Muhammad kembali bergerak. Kali ini mereka harus menempuh jalan setapak. Rombongan pun kebagian tugas untuk mengangkut bantuan sembako dan kursi roda untuk disalurkan kepada inong balee dan lansia. Selama dalam perjalanan, Fadhil Muhammad kerap menceritakan pengalaman hidupnya ketika masih bergerilya di belantara Aceh Timur. Kadang ia tertawa lepas, saat mengenang kisah-kisah yang lucu. Kadang serius dengan mimik haru. Kisahnya pun tak mungkin dirawikan secara utuh.

Tiba di sebuah rumah, rombongannya pun terhenti. Di sudut pintu depan rumah terlihat seorang perempuan berusia lanjut.

“Piyoeh neuk, tameubuka hinoe bak kamoe. Peuloem katroeh keunoe. Loen hana sehat katuha. trimoeng geunaseh that nyak kakajak saweu loen (mampir nak, mau berbuka puasa disini. Apalagi sudah tiba disini. Saya sudah tidak sehat lagi karena sudah tua. Terima kasih sudah mau berkunjung kemari),” kata perempuan tua kepada Al Farlaky.

“Lakee meu’ah nek. Kamoe suwah meujak intat bantuan lom keu syedara geutanyoe nyang laen (maaf nek. Kami harus mengantar bantuan lagi ke saudara kita yang lain),” kata Iskandar Al Farlaky.

“Insya Allah, laen kali nek beuh. Neulakee doa beu sehat sabee mangat jeut saweu droeneuh lom (insya Allah lain kali ya, nek. Mohon doanya semoga selalu sehat agar bisa menjenguknya lagi),” timpal Fadhil Muhammad.

Matahari sudah condok ke ufuk barat. Lantunan kalam Ilahi menggema di balik pengeras suara masjid dan meunasah-meunasah. Al Farlaky dan rombongannya pun berlalu.
“Malam ini kita harus kembali ke Banda Aceh. Masih banyak agenda lain yang harus diselesaikan,” ujar Iskandar Al Farlaky. []

- Advertisement -
- Advertisement -

Stay Connected

16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Must Read

- Advertisement -

Related News

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here