Beranda News Tinjau ke Lapangan, Tim Pansus DPRA Temukan Proyek Otsus Bermasalah

Tinjau ke Lapangan, Tim Pansus DPRA Temukan Proyek Otsus Bermasalah

- Advertisement -

TEMPIAS.ID | SIGLI – Tim Panitia Khusus (Pansus) DPRA menemukan sejumlah realisasi proyek yang bersumber dana otonomi khusus tahun 2019 tidak sesuai perencanaan. Sejumlah temuan tersebut diketahui dari hasil peninjauan anggota DPRA Dapil 02 ke sejumlah lokasi di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya.

“Sejumlah temuan proyek tahun anggaran 2019 dari Otsus banyak sekali temuan di lapangan. Kebanyakan proyek-proyek tidak sesuai dengan perencanaan,” kata anggota DPR Aceh, M. Rizal Fahlevi Kirani, Senin (13/7/2020).

Menurutnya, temuan itu nantinya akan menjadi catatan bagi tim pansus untuk dibawah ke sidang paripurna DPRA. Politisi muda dari PNA ini menjelaskan, diantara temuan proyek otsus bermasalah itu umumnya adalah proyek yang tidak sepenuhnya sesuai dengan perencanaan. Sehingga sarana yang dibangun tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat.

Ia mencontohnya pembangunan jalan Tringgadeng – Bireuen dengan nilai kontrak senilai Rp 21 Miliar. Saat dilakukan peninjauan, kegiatan tersebut tidak dilaksanakan sesuai standar kontrak. Sehingga menjadi temuan pihak Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) setelah dilakukan uji ketebalan jalan.

“Secara fisik memang sudah dilaksanakan. Namun kami sangat kecewa karena nyatanya tidak sesuai standar kontrak. Saat dicek oleh tim auditor BPK, terjadi kurang volume. Dari hasil uji jelas ada faktor kelalaian pengawasan dari PPTK dan unsur terkait,” kata Fahlevi Kirani.

Hal lain yang sangat beresiko adalah bahwa, pembangunan jalan ini dilakukan pada bekas rel kereta api. Ini merupakan aset milik PT Kereta Api. Padahal masih belum ada surat pembebasan lahan atau surat pengalihan aset dari PT. Kereta Api kepada Pemerintah Aceh.

Temuan selanjutnya adalah pembangunan jembatan Krueng Kiran ruas Tringgadeng – batas Bireuen.

 

Pembangunan dengan nilai kontrak senilai Rp 11 Miliar dengan hasil akhir jembatan rangka baja. Saat tim Pansus mengecek, pembangunan jembatan ini juga tidak sesuai dengan proses perencanaan.

Pada kedus sisi oprit, kondisi jalan sudah turun dan retak-retak. Padahal hanya baru beberapa bulan setelah selesai dikerjakan.

“Ini mengindikasikan pembangunan dilaksanakan bukan dengan kualitas standar. Padahal jembatan ini tidak banyak dilalui kendaraan, ini tidak boleh dibiarkan. Kita meminta kepada Dinas PUPR harus segera menindaklanjut hasil temuan ini,” kata Fahlevi Kirani lagi. [Parlementaria]

 

 

 

 

- Advertisement -
- Advertisement -

Stay Connected

16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Must Read

- Advertisement -

Related News

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here