Beranda Lifestyle Toet Karbet, Perang Suci di Tengah Pandemi

Toet Karbet, Perang Suci di Tengah Pandemi

- Advertisement -

TEMPIAS.ID | Sigli – Suara ledakan sahut menyahut terdengar di sepanjang bantaran sungai desa Garot, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie, Minggu (24/5) malam.

Namun, dentuman suara dahsyat menggelegar mirip suara bom itu tak membuat warga panik. Malahan, warga sebaliknya justru berduyun-duyun memadati lokasi ledakan tersebut. Meski di tengah pandemi covid-19, warga yang mayoritas kaum muda dan anak-anak semakin bertambah. Mereka ingin melihat langsung suara ledakan yang ternyata berasal dari meriam bambu dan karbit.

Sekedar informasi, umumnya di Kabupaten Pidie, menyulut meriam bambu dan karbit memang sudah menjadi tradisi yang digelar setiap malam kedua Idul Fitri. Tradisi menyulut ini dikenal “tet budee trieng” dan “tet karbet”.

Di tengah wabah corona, Pemkab Pidie memberlakukan aturan agar tradisi perang di malam suci menyambut lebaran untuk sementara ditiadakan. Hal ini untuk mengantisipasi membludaknya pengunjung.

Baca : Pemkab Pidie Larang Tradisi Meriam Karbit Selama Lebaran

“Sebaiknya tradisi toet karbit ditiadakan dulu. Karena dikhawatirkan akan memancing suasana keramaian di tengah wabah corona,” kata Wakil Bupati Pidie, Fadhlullah TM Daud ketika dikonfirmasi TEMPIAS.ID via telepon seluler, Selasa (19/5) lalu.

Kendati demikian, warga masih tetap memadati lokasi sehingga terkesan mengabaikan himbauan physical distancing. Tradisi yang digelar turun menurun ini sangat dinantikan warga. Hal ini dapat dilihat semakin membludaknya para pengunjung yang berdatangan ke bantaran sungai.

Pertunjungan yang menjadi ajang tahunan ini memang memikat, khususnya suara ledakan yang menggema hingga terdengar radius 10 km. Bahkan, saking kerasnya suara ledakan, sejumlah warga terpaksa mengungsikan orang lanjut usia dan bayi yang berdomisili dekat dengan lokasi pertunjukan.

Menariknya lagi, tradisi ini tidak hanya digeluti kaum adam, namun juga kaum hawa pun tak ketinggalan memanfaatkan momen ini. Kaum perempuan turut ikut membuatkan kue untuk para pembakar meriam bambu dan karbit tersebut. Selain itu, para pedagang juga memanfaatkan peluang ini untuk menjajakan aneka makanan cepat saji di lokasi.

“Kegiatan yang sudah menjadi tradisi atau ajang tahunan ini sudah sejak lama digeluti warga, tapi saya tidak ingat persis kapan pertama kali dimulai. Sebab dari sejak kecil saya sudah melihat adanya tradisi bakar meriam karbit ini,” ujar Nasrullah, warga kota Sigli kepada TEMPIAS.ID.

Ia mengaku sengaja datang ke lokasi untuk menonton atraksi bakar meriam bambu dan karbit tersebut. Ketika ditanyakan soal himbauan pemerintah tentang jaga jarak, ia hanya terdiam.

“Hana tatu’oh peugah. Meunyoe maot nyan memang hana tatuho gese. Nyan ka takdir (tidak bisa kita katakan apapun. Jika maut itu memang tidak bisa kita hindari. Itu sudah takdir),” ucap Nasrullah.

Sementara itu, salah satu warga lainnya mengatakan, kegiatan teut beude karbit ini sempat saat konflik bersenjata melanda Aceh.

Pasca perjanjian damai, antusias warga yang ingin membakar meriam karbit semakin memuncak.Bahkan tak jarang ada warga ikut menyumbangkan dana demi menggelar tradisi tersebut.

“Umumnya para penyumbang itu berasal dari warga disini yang pulang merantau di kala lebaran. Bahkan dana yang terkumpul bisa mencapai Rp 20 juta lebih,” ujar warga yang menolak namanya ditulis.

Menurutnya, tradisi ini dulunya dilaksankan pada malam pertama hari raya. Namun karena sekarang sudah digelar takbir keliling pada malam pertama, maka “Teut Budee” dan meriam karbit digeser ke malam kedua.

“Tapi tradisi ini tidak akan kami lakukan pada malam Jum’at, walaupun malam lebaran kedua itu jatuh di malam Jum’at. Tradisi ini rutin dimulai selesai salat Isya hingga menjelang Subuh,” ujarnya lagi. []

Laporan : Arif Budiman

- Advertisement -
- Advertisement -

Stay Connected

16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Must Read

- Advertisement -

Related News

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here